Penikmat Rain [do]



Tuan, kamu yang lancang hadir di hidup memberikan sejuta ton harapan sehingga aku mampu bernapas sepenuhnya Bahkan sampai sesak dada ini . 

Sudah .. sudah .. tak usah kau tambah lagi harapan itu, ataukah kau ingin melihat ku mati karena tenggelam di harapan? 
hahaha.. tidak tidak aku hanya bergurau, mana bisa aku meninggalkan mu sebelum aku membahagiakan mu. Bagaimana nasib ku di atas sana melihat mu yang termenung karena ku belum menepati janjiku sebagai salam perpisahan..

Hssttttt.. sudah tidak akan ku meninggalkan mu tenang saja . 

Tuan .. ntah apa namanya ini yang aku rasakan
Mengapa enak sekali yaa ? selalu ada perasaan nyaman saat bersama mu, tenangggg sekali saat ku tahu kau selalu ada di samping ku . Hmmm ... aku mulai curiga kamu ini manusia atau sejenis malaikat yang di utus langsung oleh tuhan untuk menemani hari hari ku ? aahhh sudah lah mungkin kamu adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia, buktinya aku bisa memeluk mu dengan erat, maaf mungkin terlalu erat dan membuat mu sesak . Tetapi akan lebih sesak menahan rindu saat waktu yang mulai mengetuk pintu tanda kita harus berpisah. 

Huuufffttttt .. sungguh sebal bila si waktu telah mengetuk pintu.. 

Hai .. tuan kemana kamu pergi ? mengapa tak kunjung datang lagi ? aku rindu pada mu tuan ..
AAHHH .. mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaan nya yang menyita waktu nya untuk ku . Baiklaahh mungkin rindu ini harus aku simpan agar aku lebih menghargai pertemuan bila dengannya nanti. 

Suara apaa itu ? sungguh menggelitik di telinga..
"Tahuu bulaatt di goreng dadakan .. goopeeee .. gooppeeee " hahaaha penasaran menghampiri ku . 
Samar samar di balik riuh nya hujan aku mendengar suara itu oohhh .. itu hanya tukang tahu bulat .. 

"Sore ini aku menemukan korelasi antara Hujan - Rindu - Tahu bulat sama sama dadakan " 

Haii Tuan, akhirnya kau datang juga setelah sekian lama menahan rindu

Mengapa kau datang dengan wajah murung ? 

Saat ini aku melihatmu murung. Melamun dengan mata menerawang. Seperti melihat jiwamu sendiri. Dalam-dalam.
Aku benci melihatmu seperti ini.

Aku pernah melihat kau lelap, dengan wajah damai serupa anak kecil yang tak berlumur dosa. Kutinggalkan jejak-jejak doa di rambutmu, dahimu, pipimu, lentik bulu matamu, alismu, bahkan bibirmu melalui jemariku. Aku ingin mengusapmu sayang, karena benci melihatmu memikul sakit dan kecewa sendirian.

Aku ingin menjadi yang kau butuhkan. Yang selalu kau cari saat kau perlu sandaran. Ya
ng selalu kau minta untuk datang, sekadar memberikan belaian, menenangkan. Yang selalu kau ingat, saat kau sedang butuh genggam dan pelukan.

Aku ingin menjadi rumah. Penenangmu.
Aku ingin menjadi dekap. Penghangatmu.
Aku ingin menjadi ingar yang menghapus sepi dalam sendi-sendumu.
Tapi, sayang. Aku bukanlah Tuhan. Yang bisa memerintahmu untuk melakukan ini atau itu.
Aku hanya mampu meminta kepadamu untuk datang kembali.

Kau tentu saja boleh pergi sejauh yang kau mau. Carilah lelah sejauh yang kau mampu. Toh aku tak pernah menutup pintu.
Sebab aku tak pernah ingin membiarkanmu tenggelam dalam kesepian. Sendirian.
Datanglah lagi. Jika kau merasa begitu lelah namun tak memiliki tempat untuk sekadar singgah.
Datanglah lagi. Jika kau rasa penat terlalu rewel memenuhi kepalamu. Aku lengan yang selalu siap menangkap dan mendekapmu.
Datanglah lagi walaupun sekedar minum seteguk kopi yang tak terlalu panas kesukaan mu dan aku akan senang hati mendengar cerita mu setelah kau pergi jauh .. 

Datanglah lagi walau ku tau itu mustahil 

Datanglah lagi .. 

SRT!
Jakarta, 03 Fberuari 2017 | 15.00


Komentar

Postingan Populer